Di balik sulitnya sebab sebab rizki
أَنَّ النَّاسَ إِنَّمَا يُؤْتَوْنَ مِنْ قِلَّةِ تَحْقِيقِ التَّوَكُّلِ، وَوُقُوفِهِمْ مَعَ الْأَسْبَابِ الظَّاهِرَةِ بِقُلُوبِهِمْ وَمُسَاكَنَتِهِمْ لَهَا، فَلِذَلِكَ يُتْعِبُونَ أَنْفُسَهُمْ فِي الْأَسْبَابِ، وَيَجْتَهِدُونَ فِيهَا غَايَةَ الِاجْتِهَادِ، وَلَا يَأْتِيهِمْ إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُمْ، فَلَوْ حَقَّقُوا التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ بِقُلُوبِهِمْ، لَسَاقَ اللهُ إِلَيْهِمْ أَرْزَاقَهُمْ مَعَ أَدْنَى سَبَبٍ، كَمَا يَسُوقُ إِلَى الطَّيْرِ أَرْزَاقَهَا بِمُجَرَّدِ الْغُدُوِّ وَالرَّوَاحِ، وَهُوَ نَوْعٌ مِنَ الطَّلَبِ وَالسَّعْيِ، لَكِنَّهُ سَعْيٌ يَسِيرٌ.
Sesungguhnya manusia itu sering kali mengalami kesulitan karena kurang merealisasikan tawakal kepada Allah.
Hati mereka terlalu bergantung kepada sebab-sebab yang tampak dan merasa tenang dengannya.
Karena itu mereka membebani diri dalam mengejar berbagai sebab dan berusaha dengan sangat keras, padahal yang akan mereka peroleh hanyalah apa yang telah ditakdirkan untuk mereka.
Seandainya mereka benar-benar bertawakal kepada Allah dengan hati mereka, niscaya Allah akan mengalirkan rezeki kepada mereka melalui sebab yang paling ringan, sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang hanya pergi pada pagi hari ( dengan perut kosong) dan pulang pada sore hari ( dengan perut kenyang). Dan yang di lakukan oleh burung tersebut termasuk bentuk usaha dan ikhtiar, tetapi usaha yang ringan.
وَرُبَّمَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ رِزْقَهُ أَوْ بَعْضَهُ بِذَنْبٍ يُصِيبُهُ، كَمَا فِي حَدِيثِ ثَوْبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ».
Seseorang juga bisa terhalang dari rezekinya atau terhalang dari sebagian rezekinya karena dosa yang dilakukannya.
Sebagaimana dalam hadis Tsauban, Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dapat terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan."
وَفِي حَدِيثِ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ».
Dalam hadis Jabir, Nabi ﷺ bersabda:
"Tidaklah suatu jiwa akan mati hingga Allâh menyempurnakan seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram."
وَقَالَ عُمَرُ: بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رِزْقِهِ حِجَابٌ، فَإِنْ قَنِعَ وَرَضِيَتْ نَفْسُهُ أَتَاهُ رِزْقُهُ، وَإِنِ اقْتَحَمَ وَهَتَكَ الْحِجَابَ، لَمْ يَزِدْ فَوْقَ رِزْقِهِ.
Umar berkata:
"Antara seorang hamba dan rezekinya terdapat tabir. Jika ia bersikap qana'ah dan jiwanya ridha, maka rezekinya akan datang kepadanya.
Namun jika ia menerobos dan merobek tabir itu (dengan kerakusan dan ketamakan/mencarinya dengan cara haram), ia tetap tidak akan memperoleh lebih dari rezeki yang telah ditetapkan baginya."
وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: تَوَكَّلْ تُسَقْ إِلَيْكَ الْأَرْزَاقُ بِلَا تَعَبٍ، وَلَا تَكَلُّفٍ.
Sebagian ulama salaf berkata:
"Bertawakallah kepada Allah, niscaya rezeki akan didatangkan kepadamu tanpa keletihan yang berlebihan dan tanpa memaksakan diri."
(Lihat kitab Jamiul ulum wal hikam jilid 2 halaman 502)
وَقَالَ حَاتِمُ الْأَصَمُّ: لِلَّهِ لِي أَرْبَعُ نِسْوَةٍ، وَتِسْعَةُ أَوْلَادٍ، مَا طَمِعَ شَيْطَانٌ أَنْ يُوَسْوِسَ إِلَيَّ فِي أَرْزَاقِهِمْ.
Hatim Al-Ashamm berkata:
"Demi Allah, aku memiliki empat orang istri dan sembilan orang anak. Namun setan tidak pernah berhasil membuatku khawatir tentang rezeki mereka."
*السِّيَرُ (تَهْذِيبُهُ)٢/٩٦٠
Lihat kitab Siyar A‘lām an-Nubalā’ (tahdzibnya), jilid 2 halaman 960.
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ: سَمِعْتُ حَاتِمًا الْأَصَمَّ، وَسَأَلَهُ رَجُلٌ: عَلَى مَا بَنَيْتَ أَمْرَكَ هَذَا فِي التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ؟ قَالَ: عَلَى خِصَالٍ أَرْبَعٍ: عَلِمْتُ أَنَّ رِزْقِي لَا يَأْكُلُهُ غَيْرِي فَاطْمَأَنَّتْ بِهِ نَفْسِي، وَعَلِمْتُ أَنَّ عَمَلِي لَا يَعْمَلُهُ غَيْرِي فَأَنَا مَشْغُولٌ بِهِ، وَعَلِمْتُ أَنَّ الْمَوْتَ يَأْتِينِي بَغْتَةً فَأَنَا أُبَادِرُهُ، وَعَلِمْتُ أَنِّي لَا أَخْلُو مِنْ عَيْنِ اللَّهِ حَيْثُ كُنْتُ فَأَنَا مُسْتَحْيٍ مِنْهُ.
Muhammad bin Abi ‘Imran berkata:
"Aku mendengar Hatim Al-Ashamm. Seseorang bertanya kepadanya:
'Atas dasar apa engkau membangun sikap tawakalmu kepada Allah?'
Beliau menjawab:
'Atas empat perkara:
1- Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh orang lain, maka jiwaku pun tenang.
2- Aku mengetahui bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya.
3- Aku mengetahui bahwa kematian akan datang secara tiba-tiba, maka aku bersegera mempersiapkan diri menghadapinya.
4- Aku mengetahui bahwa aku tidak pernah lepas dari pengawasan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya.'”
*صِفَةُ الصَّفْوَةِ٤/٣٩١
Lihat Kitab Shifat ash-Shafwah, jilid 4 halaman 391.
وَقَالَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ: اعْمَلْ عَمَلَ رَجُلٍ لَا يُنَجِّيهِ إِلَّا عَمَلُهُ، وَتَوَكَّلْ تَوَكُّلَ رَجُلٍ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ.
Muslim bin Yasar berkata:
"Beramallah sebagaimana amalan seseorang yang merasa tidak ada yang akan menyelamatkannya kecuali amalnya.
Dan bertawakallah sebagaimana tawakal seseorang yang meyakini bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya."
الْحِلْيَةُ (تَهْذِيبُهَا)١/٣٩٤
Lihat Hilyatul Auliya’ (tahdzibnya), jilid 1 halaman 394.
وَقَالَ مَكْحُولٌ: لَهُ الْجَنِينُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ لَا يَطْلُبُ وَلَا يَحْزَنُ وَلَا يَغْتَمُّ، فَيَأْتِيهِ اللَّهُ بِرِزْقِهِ مِنْ قِبَلِ سُرَّتِهِ، وَغِذَاؤُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ مِنْ دَمِ حَيْضِهَا، فَمِنْ ثَمَّ لَا تَحِيضُ الْحَامِلُ، فَإِذَا سَقَطَ اسْتَهَلَّ اسْتِهْلَالَةَ إِنْكَارٍ لِمَكَانِهِ، وَقُطِعَتْ سُرَّتُهُ، وَحَوَّلَ اللَّهُ رِزْقَهُ إِلَى ثَدْيِ أُمِّهِ، ثُمَّ حَوَّلَهُ إِلَى الشَّيْءِ يُصْنَعُ لَهُ وَيَتَنَاوَلُهُ بِكَفِّهِ، حَتَّى إِذَا اشْتَدَّ وَعَقَلَ قَالَ: أَيْنَ لِي بِالرِّزْقِ؟ يَا وَيْحَكَ! أَنْتَ فِي بَطْنِ أُمِّكَ وَفِي حِجْرِهَا تُرْزَقُ، حَتَّى إِذَا عَقَلْتَ وَشَبَبْتَ قُلْتَ: هُوَ الْمَوْتُ أَوِ الْقَتْلُ، وَأَيْنَ لِي بِالرِّزْقِ؟ ثُمَّ قَرَأَ: ﴿يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ﴾.
Makhul berkata:
"Janin yang berada di dalam perut ibunya tidak pernah mencari rezeki, tidak bersedih, dan tidak pula gelisah.
Namun Allah mendatangkan rezekinya melalui tali pusarnya.
Ketika lahir, tali pusarnya diputus, lalu Allah memindahkan rezekinya ke air susu ibunya.
Setelah itu, Allah memindahkannya kepada makanan yang disiapkan untuknya hingga ia dapat mengambilnya sendiri dengan tangannya.
Namun ketika ia telah dewasa dan berakal, ia berkata:
Dari mana aku mendapatkan rezeki?
Sungguh mengherankan! Ketika engkau berada dalam kandungan ibumu dan di pangkuannya, Allah telah memberimu rezeki. Setelah engkau dewasa justru engkau meragukan rezekimu."
Kemudian beliau membaca firman Allah:
"Allah mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan, apa yang berkurang dalam rahim dan apa yang bertambah."
(QS. Ar-Ra'd: 8)
عُيُونُ الْأَخْبَارِ ٢/٧٣٠
Lihat Kitab ‘Uyun al-Akhbar, jilid 2 halaman 730.
وَعَنْ أَبِي حَازِمٍ أَنَّهُمْ أَتَوْهُ فَقَالُوا لَهُ: يَا أَبَا حَازِمٍ، أَمَا تَرَى قَدْ غَلَا السِّعْرُ؟ فَقَالَ: وَمَا يُغِمُّكُمْ مِنْ ذَلِكَ؟ إِنَّ الَّذِي يَرْزُقُنَا فِي الرُّخْصِ هُوَ الَّذِي يَرْزُقُنَا فِي الْغَلَاءِ.
Diriwayatkan dari Abu Hazim bahwa orang-orang datang kepadanya dan berkata:
"Wahai Abu Hazim, tidakkah engkau melihat harga-harga telah melonjak?"
Beliau menjawab:
"Mengapa hal itu membuat kalian bersedih?
Dzat yang memberi rezeki kepada kita ketika harga murah adalah Dzat yang sama yang memberi rezeki kepada kita ketika harga mahal."
*الْحِلْيَةُ (تَهْذِيبُه١/٥٢٦
Lihat kitab Hilyatul Auliya’ (tahdzibnya), jilid 1 halaman 526.
(Lihat Kitab hayatus Salaf bainal Qauli Wal 'amali halaman 585-586)
