Indahnya Akhlak ahli ilmu dan ahli adab dalam Menjaga Hati dan Lisan dan persaudaraan
وَعَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: مَا بَلَغَنِي عَنْ أَخٍ مَكْرُوهٌ قَطُّ إِلَّا أَنْزَلْتُهُ إِحْدَى ثَلَاثِ مَنَازِلَ: إِنْ كَانَ فَوْقِي عَرَفْتُ لَهُ قَدْرَهُ، وَإِنْ كَانَ نَظِيرِي تَفَضَّلْتُ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ دُونِي لَمْ أُحَافِلْ بِهِ. هَذِهِ سِيرَتِي فِي نَفْسِي، فَمَنْ رَغِبَ عَنْهَا فَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ.
Dari Maimun bin Mihran berkata:
Aku mendengar Ibnu Abbas berkata:
“Tidaklah sampai kepadaku sesuatu yang tidak aku sukai tentang seorang saudara (muslim), kecuali aku menempatkannya pada salah satu dari tiga posisi:
Jika dia lebih tinggi dariku, aku menghargai kedudukannya.
Jika dia setara denganku, aku berbuat baik dan mengalah kepadanya.
Jika dia di bawahku, aku tidak mempedulikannya.
Inilah prinsip hidupku;
siapa yang tidak menyukainya, maka bumi Allah itu luas.”
وَعَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ: إِذَا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ الْعُذْرَ جَهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْرًا فَقُلْ فِي نَفْسِكَ: لَعَلَّ لِأَخِي عُذْرًا لَا أَعْلَمُهُ.
Dari Humaid Ath-Thawil, dari Abu Qilabah berkata:
“Jika sampai kepadamu sesuatu tentang saudaramu yang engkau benci, maka carilah untuknya alasan semampumu.
Jika engkau tidak mendapatkan alasan, maka katakan dalam dirimu:
‘Mungkin saudaraku memiliki alasan yang aku tidak mengetahuinya.’”
وَيُرْوَى عَنْ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ قَالَ:
مَنْ لَمْ يُوَاخِ إِلَّا مَنْ لَا عَيْبَ فِيهِ قَلَّ صَدِيقُهُ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ مِنْ صَدِيقِهِ إِلَّا بِالْإِخْلَاصِ لَهُ دَامَ سَخَطُهُ، وَمَنْ عَاتَبَ إِخْوَانَهُ عَلَى كُلِّ ذَنْبٍ كَثُرَ عَدُوُّهُ.
Diriwayatkan dari Raja’ bin Haywah berkata:
“Barangsiapa tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tanpa aib, maka sedikitlah temannya.
Barangsiapa tidak ridha dari temannya kecuali (dia menuntut temannya harus memiliki) keikhlasan yang sempurna, maka akan bertambah dalam kemarahannya.
*Dan barangsiapa mencela saudara-saudaranya atas setiap kesalahan, maka akan banyak musuhnya.”*
وَعَنْ أَبِي يَعْقُوبَ الْمَدَنِيِّ قَالَ: كَانَ بَيْنَ حَسَنِ بْنِ حَسَنٍ وَبَيْنَ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بَعْضُ الْأَمْرِ، فَجَاءَ حَسَنُ بْنُ حَسَنٍ إِلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَهُوَ فِي أَصْحَابِهِ فِي الْمَسْجِدِ، فَمَا تَرَكَ شَيْئًا إِلَّا قَالَهُ لَهُ، قَالَ: وَعَلِيٌّ سَاكِتٌ. فَانْصَرَفَ حَسَنٌ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ أَتَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَقَرَعَ عَلَيْهِ بَابَهُ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: يَا أَخِي، إِنْ كُنْتَ صَادِقًا فِيمَا قُلْتَ لِي فَغَفَرَ اللَّهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ. وَوَلَّى. قَالَ: فَاتَّبَعَهُ حَسَنٌ فَالْتَزَمَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَبَكَى حَتَّى رَثَى لَهُ، ثُمَّ قَالَ: لَا جَرَمَ لَا عُدْتُ فِي أَمْرٍ تَكْرَهُهُ. فَقَالَ عَلِيٌّ: وَأَنْتَ فِي حِلٍّ مِمَّا قُلْتَ لِي.
Dari Abu Ya‘qub Al-Madani berkata:
Terjadi sesuatu antara Hasan bin Hasan dan Ali bin Husain.
Hasan datang kepada Ali saat ia bersama para sahabatnya di masjid, lalu ia mengatakan semua (celaan) tanpa tersisa, sementara Ali diam.
Kemudian Hasan pergi.
Pada malam hari, Ali mendatanginya ke rumahnya dan mengetuk pintunya. Hasan keluar.
Ali berkata:
*“Wahai saudaraku, jika engkau benar dalam ucapanmu, semoga Allah mengampuniku.*
*Jika engkau dusta, semoga Allah mengampunimu. Assalamu’alaikum.”*
Lalu ia pergi.
Hasan pun mengejarnya, memeluknya dari belakang, dan menangis hingga iba, lalu berkata:
“Aku tidak akan mengulangi lagi hal yang engkau benci.”
Ali berkata:
“Dan engkau telah aku halalkan dari apa yang engkau katakan kepadaku.”
وَعَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ:
قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: إِنَّ الدُّنْيَا نَذَالَةٌ، هِيَ إِلَى كُلِّ نَذْلٍ أَمْيَلُ، وَأَنْذَلُ مِنْهَا مَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا، وَطَلَبَهَا بِغَيْرِ وَجْهِهَا، وَوَضَعَهَا فِي غَيْرِ سُبُلِهَا.
Dari Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:
“Sesungguhnya dunia itu hina, dan lebih condong kepada orang-orang yang hina.
Dan yang lebih hina darinya adalah orang yang mengambilnya tanpa hak, mencarinya dengan cara yang tidak benar, dan menempatkannya bukan pada jalan yang semestinya.”
وَعَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ:
قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرِيفٍ وَلَا عَالِمٍ وَلَا ذِي فَضْلٍ إِلَّا وَفِيهِ عَيْبٌ، لَكِنْ مِنَ النَّاسِ مَنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ تُذْكَرَ عُيُوبُهُ: مَنْ كَانَ فَضْلُهُ أَكْثَرَ مِنْ نَقْصِهِ وُهِبَ نَقْصُهُ لِفَضْلِهِ.
Dari Malik bin Anas berkata:
Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:
“Tidak ada seorang yang mulia, berilmu, atau memiliki keutamaan kecuali pasti memiliki kekurangan.
Namun ada orang yang tidak layak disebutkan aibnya, yaitu orang yang kelebihannya lebih banyak daripada kekurangannya, maka kekurangannya dimaafkan karena keutamaannya.”
(Lihat Kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis salaf 117-118)
وَعَنْ عَبَايَةَ بْنِ كُلَيْبٍ قَالَ:
سَمِعْتُ ابْنَ السَّمَّاكِ يَقُولُ: سَبُعُكَ بَيْنَ لَحْيَيْكَ تَأْكُلُ بِهِ كُلَّ مَنْ مَرَّ عَلَيْكَ، قَدْ آذَيْتَ أَهْلَ الدُّورِ فِي الدُّورِ حَتَّى تَعَاطَيْتَ أَهْلَ الْقُبُورِ، فَمَا تَرْثِي لَهُمْ وَقَدْ جَرَى الْبِلَى عَلَيْهِمْ، وَأَنْتَ هَاهُنَا تَنْبِشُهُمْ؟! إِنَّهُ يَنْبَغِي لَكَ أَنْ يَدُلَّكَ عَلَى تَرْكِ الْقَوْلِ فِي أَخِيكَ ثَلَاثُ خِصَالٍ: أَمَّا وَاحِدَةٌ فَلَعَلَّكَ أَنْ تَذْكُرَهُ بِأَمْرٍ هُوَ فِيكَ، فَمَا ظَنُّكَ بِرَبِّكَ إِذَا ذَكَرْتَ أَخَاكَ بِأَمْرٍ هُوَ فِيكَ؟ وَلَعَلَّكَ تَذْكُرُهُ بِأَمْرٍ فِيكَ أَعْظَمُ مِنْهُ، فَذَلِكَ أَشَدُّ اسْتِحْكَامًا لِمَقْتِهِ إِيَّاكَ، وَلَعَلَّكَ تَذْكُرُهُ بِأَمْرٍ قَدْ عَافَاكَ اللَّهُ مِنْهُ، فَهَذَا جَزَاؤُهُ إِذْ عَافَاكَ. أَمَا سَمِعْتَ: ارْحَمْ أَخَاكَ وَاحْمَدِ الَّذِي عَافَاكَ؟
Dari ‘Abayah bin Kulaib berkata:
Aku mendengar Ibnu As-Sammak berkata:
“Binatang buasmu berada di antara dua rahangmu (lisanmu), dengannya engkau ‘memakan’ setiap orang yang lewat di hadapanmu.
Engkau telah menyakiti orang-orang yang hidup di rumah-rumah, hingga engkau juga mencela orang-orang yang sudah di kubur.
Tidakkah engkau merasa kasihan kepada mereka, padahal mereka telah hancur (di dalam kubur), sementara engkau di sini masih membongkar (aib) mereka?!
Seharusnya ada tiga hal yang mencegahmu dari membicarakan saudaramu:
*Pertama,*
bisa jadi engkau menyebut keburukannya padahal itu ada pada dirimu sendiri
bagaimana sangkaanmu kepada Rabbmu jika engkau mencela saudaramu dengan sesuatu yang hal itu sebenarnya ada padamu?
*Kedua*
bisa jadi engkau mencelanya dengan sesuatu yang ada padamu justru lebih besar, maka itu lebih kuat menyebabkan kemurkaan-Nya kepadamu.
*Ketiga*
bisa jadi engkau mencelanya dengan sesuatu yang Allah telah menyelamatkanmu darinya, maka apakah ini balasanmu setelah Allah menyelamatkanmu?
Tidakkah engkau mendengar:
‘Sayangilah saudaramu dan bersyukurlah kepada Dzat yang telah menyelamatkanmu?’”
وَقَالَ بَكْرُ بْنُ مُنِيرٍ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْبُخَارِيَّ يَقُولُ: أَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَا يُحَاسِبُنِي أَنِّي اغْتَبْتُ أَحَدًا.
قَالَ الذَّهَبِيُّ: صَدَقَ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي كَلَامِهِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ عَلِمَ وَرَعَهُ فِي الْكَلَامِ فِي النَّاسِ، وَإِنْصَافَهُ فِيمَنْ يُضَعِّفُهُ، فَإِنَّهُ أَكْثَرُ مَا يَقُولُ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، سَكَتُوا عَنْهُ، فِيهِ نَظَرٌ، وَنَحْوُ هَذَا. وَقَلَّ أَنْ يَقُولَ: فُلَانٌ كَذَّابٌ، أَوْ كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ. حَتَّى إِنَّهُ قَالَ: إِذَا قُلْتُ: فُلَانٌ فِي حَدِيثِهِ نَظَرٌ، فَهُوَ مُتَّهَمٌ وَاهٍ. وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ: لَا يُحَاسِبُنِي اللَّهُ أَنِّي اغْتَبْتُ أَحَدًا، وَهَذَا وَاللَّهِ غَايَةُ الْوَرَعِ.
Berkata Bakr bin Munir:
Aku mendengar Abu ‘Abdillah Al-Bukhari berkata:
“Aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan Dia tidak menghisabku karena aku pernah menggunjing ( menggibah ) seseorang.”
Adz-Dzahabi berkata:
“Beliau benar—semoga Allah merahmatinya.
Barangsiapa meneliti ucapan beliau dalam ilmu jarh wa ta’dil, akan mengetahui kehati-hatian (wara’) beliau dalam berbicara tentang manusia, serta keadilannya terhadap orang yang ia nilai lemah.
Biasanya beliau berkata:
‘hadisnya munkar’, ‘mereka diam terhadapnya’, ‘perlu ditinjau’, dan semisalnya.
Jarang sekali beliau mengatakan:
‘si fulan pendusta’ atau ‘ia memalsukan hadis’.
Bahkan beliau berkata:
‘Jika aku mengatakan:
pada hadisnya ada penilaian (perlu ditinjau), maka itu berarti ia tertuduh lemah.’
Inilah makna ucapannya:
‘Aku berharap Allah tidak menghisabku karena aku menggunjing seseorang.’
Dan ini—demi Allah—adalah puncak sifat wara’.”
وَعَنْ سَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التُّسْتَرِيِّ قَالَ: مِنْ أَخْلَاقِ الصِّدِّيقِينَ أَنْ لَا يَحْلِفُوا بِاللَّهِ، وَأَنْ لَا يَغْتَابُوا، وَلَا يُغْتَابَ عِنْدَهُمْ، وَأَنْ لَا يَشْبَعُوا، وَإِذَا وَعَدُوا لَمْ يُخْلِفُوا، وَلَا يَمْزَحُونَ أَصْلًا.
Dari Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari berkata:
“Di antara akhlak orang-orang yang jujur (shiddiqin) adalah:
mereka tidak banyak bersumpah dengan nama Allah,
tidak menggibah (saudaranya), dan tidak membiarkan orang lain menggibah ( saudaranya) di hadapan mereka,
tidak berlebihan dalam makan (tidak sampai kenyang),
apabila berjanji mereka tidak menyelisihi,
dan mereka tidak bercanda (secara berlebih lebihan ).”
(Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf halaman 127-128)
