SYAHWAT YANG TERSEMBUNYI
Sesungguhnya di antara ( penyakit hati) yang merusak keikhlasan dan kemurnian tauhid hati, serta semakin mengikatkan hati pada dunia dan membuat hati berpaling dari akhirat adalah cinta terhadap kedudukan dan kekuasaan.
Ia merupakan penyakit yang sangat parah; demi mengejarnya banyak harta-harta dihabiskan, darah-darah ditumpahkan, dan karenanyalah timbul permusuhan serta kebencian antara seorang saudara dengan saudaranya, bahkan muncul kebencian antara seorang anak dengan ayahnya sendiri. Oleh sebab itulah penyakit ini dinamakan “syahwat yang tersembunyi.”
(lihat kitab hubbur riaasaah halaman 5)
مَا أَحَبَّ أَحَدٌ الرِّئَاسَةَ إِلَّا أَحَبَّ ذِكْرَ النَّاسِ بِالنَّقَائِصِ وَالْعُيُوبِ لِيَتَمَيَّزَ هُوَ بِالْكَمَالِ،
Tidaklah seseorang mencintai kedudukan dan kekuasaan, melainkan ia akan senang menyebut-nyebut kekurangan dan aib orang lain, agar dirinya tampak menonjol sebagai sosok yang sempurna.
وَيَكْرَهُ أَنْ يَذْكُرَ النَّاسُ أَحَدًا عِنْدَهُ بِخَيْرٍ،
Dan ia pun membenci apabila orang-orang menyebut kebaikan seseorang (orang lain ) di hadapannya.
وَمَنْ عَشِقَ الرِّئَاسَةَ فَقَدْ تُوُدِّعَ مِنْ صَلَاحِهِ.
Dan barang siapa telah tergila-gila pada kedudukan dan kekuasaan, maka sungguh ia telah berpamitan dengan kebaikan dirinya.
(Kitab hubbur riaasaah halaman 20)
لِلرِّئَاسَةِ صُورَتَانِ بِاعْتِبَارِ الْأَمْرِ الْمُتَرَأَّسِ فِيهِ:
الصُّورَةُ الْأُولَى:
الرِّئَاسَةُ الدُّنْيَوِيَّةُ.
وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ: الرِّئَاسَةُ الْعِلْمِيَّةُ الدِّينِيَّةُ.
Kepemimpinan (atau kedudukan) memiliki dua bentuk, ditinjau dari perkara yang dipimpin di dalamnya:
Bentuk pertama
*adalah kepemimpinan duniawi.*
Bentuk kedua
*adalah kepemimpinan ilmiah dalam agama*
قَالَ ابْنُ رَجَبٍ:
وَالْحِرْصُ عَلَى الشَّرَفِ عَلَى قِسْمَيْنِ: أَحَدُهُمَا طَلَبُ الشَّرَفِ بِالْوِلَايَةِ وَالسُّلْطَانِ وَالْمَالِ، وَهَذَا خَطَرٌ جِدًّا، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ يَمْنَعُ خَيْرَ الْآخِرَةِ وَشَرَفَهَا وَكَرَامَتَهَا وَعِزَّهَا.
Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
Keinginan seseorang terhadap kemuliaan dan kedudukan terbagi menjadi dua bagian.
*Bagian pertama*
adalah mencari kehormatan melalui jabatan, kekuasaan, dan harta.
Ini sangat berbahaya, dan pada umumnya menjadi penghalang seseorang dari kebaikan akhirat, kemuliaannya, kehormatannya, dan kemegahannya.
قَالَ تَعَالَى:
﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾
[الْقَصَصِ: ٨٣].
Allah Ta‘ala berfirman:
“Itulah negeri akhirat, Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.
Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Qashash: 83)
ثُمَّ قَالَ: الْقِسْمُ الثَّانِي: طَلَبُ الشَّرَفِ وَالْعُلُوِّ عَلَى النَّاسِ بِالْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالزُّهْدِ، فَهَذَا أَفْحَشُ مِنَ الْأَوَّلِ وَأَقْبَحُ، وَأَشَدُّ فَسَادًا وَخَطَرًا.
Kemudian beliau berkata:
Bagian kedua adalah mencari kehormatan dan ketinggian di atas manusia melalui perkara-perkara agama, seperti ilmu, amal, dan kezuhudan.
Ini lebih jelek daripada yang pertama, lebih buruk, serta lebih besar kerusakan dan bahayanya.
فَإِنَّ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ وَالزُّهْدَ إِنَّمَا يُطْلَبُ بِهَا مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، وَالْقُرْبِ مِنْهُ وَالزُّلْفَى لَدَيْهِ.
Karna sesungguhnya ilmu, amal, dan kezuhudan itu seharusnya dicari hanya untuk meraih apa yang ada di sisi Allah berupa derajat yang tinggi, kenikmatan yang abadi, kedekatan dengan-Nya, dan kemuliaan di hadapan-Nya.
قَالَ الثَّوْرِيُّ: إِنَّمَا فُضِّلَ الْعِلْمُ لِأَنَّهُ يُتَّقَى بِهِ اللَّهُ، وَإِلَّا كَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ.
Sufyān ats-Tsaurī رحمه الله berkata:
Ilmu itu dimuliakan karena dengannya seseorang bisa bertakwa kepada Allah.
Jika tidak, maka ia hanyalah seperti perkara-perkara lainnya.
فَإِذَا طُلِبَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا عَرَضُ الدُّنْيَا الْفَانِي، فَهُوَ أَيْضًا نَوْعَانِ:
أَحَدُهُمَا: أَنْ يُطْلَبَ بِهِ الْمَالُ، فَهَذَا مِنْ نَوْعِ الْحِرْصِ عَلَى الْمَالِ وَطَلَبِهِ بِالْأَسْبَابِ الْمُحَرَّمَةِ.
Apabila dengan ilmu agama, amal, atau kezuhudan itu seseorang mencari kenikmatan dunia yang fana, maka hal tersebut terbagi menjadi dua jenis.
*Jenis pertama*
Mencari ilmu agama untuk mendapatkan harta.
Ini termasuk bentuk ketamakan terhadap harta dan mencarinya dengan cara-cara yang diharamkan.
النَّوْعُ الثَّانِي:
مَنْ يَطْلُبُ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالزُّهْدِ؛ الرِّئَاسَةَ عَلَى الْخَلْقِ، وَالتَّعَاظُمَ عَلَيْهِمْ، وَأَنْ يَنْقَادَ الْخَلْقُ لَهُ وَيَخْضَعُوا، وَيَصْرِفُوا وُجُوهَهُمْ إِلَيْهِ.
*Jenis kedua*
adalah orang yang menjadikan ilmu agama, amal, dan kezuhudan sebagai sarana untuk meraih kepemimpinan atas manusia, merasa besar di hadapan mereka, agar manusia tunduk, patuh, dan mengarahkan perhatian kepadanya.
وَأَنْ يَظْهَرَ لِلنَّاسِ زِيَادَةَ عِلْمِهِ عَلَى الْعُلَمَاءِ لِيَعْلُوَ بِهِ عَلَيْهِمْ وَنَحْوَ ذَلِكَ، فَهَذَا مَوْعِدُهُ النَّارُ؛ لِأَنَّ قَصْدَ التَّكَبُّرِ عَلَى الْخَلْقِ مُحَرَّمٌ فِي نَفْسِهِ.
Termasuk di dalamnya adalah dengan tujuan menampakkan kepada manusia bahwa ilmunya lebih tinggi daripada para ulama agar ia merasa lebih unggul atas mereka dan semisalnya.
Orang yang ( niatnya ) seperti ini tempat kembalinya adalah neraka, karena tujuan menyombongkan diri di hadapan makhluk itu sendiri adalah sesuatu yang haram.
فَإِذَا اسْتُعْمِلَتْ فِيهِ آلَةُ الْآخِرَةِ، كَانَ أَقْبَحَ وَأَفْحَشَ مِنْ أَنْ تُسْتَعْمَلَ فِيهِ آلَاتُ الدُّنْيَا مِنَ الْمَالِ وَالسُّلْطَانِ.
Apabila alat-alat (amal amal) akhirat digunakan untuk tujuan tersebut, maka hal itu lebih buruk dan lebih keji dibandingkan menggunakan alat-alat (amal amal) dunia seperti harta dan kekuasaan.
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
«مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ».
Dari Ka‘ab bin Malik رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
“Barang siapa yang menuntut ilmu agama untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menyaingi para ulama, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
*(Hubbur riasah Halaman 15-16 oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)*
قال ابنُ القَيِّمِ:
«كُلُّ مَنْ آثَرَ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَاسْتَحَبَّهَا، فَلَا بُدَّ أَنْ يَقُولَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ فِي فَتْوَاهُ وَحُكْمِهِ، وَفِي خَبَرِهِ وَإِلْزَامِهِ؛ لِأَنَّ أَحْكَامَ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ كَثِيرًا مَا تَأْتِي عَلَى خِلَافِ أَغْرَاضِ النَّاسِ».
Ibnu al-Qayyim pernah berkata:
“Setiap orang berilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, pasti akan berkata atas nama Allah tanpa hak (tidak sesuai dengan kebenaran) , baik dalam fatwanya, hukumnya, beritanya, maupun dalam kewajiban yang ia tetapkan.
Sebab, hukum-hukum Allah Ta‘ala sering kali bertentangan dengan keinginan manusia.”
«وَلَا سِيَّمَا أَهْلَ الرِّيَاسَةِ وَالَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ؛ فَإِنَّهُمْ لَا تَتِمُّ لَهُمْ أَغْرَاضُهُمْ إِلَّا بِمُخَالَفَةِ الْحَقِّ وَدَفْعِهِ كَثِيرًا».
Terlebih lagi para pencari kekuasaan dan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, karena tujuan-tujuan mereka tidak akan tercapai kecuali dengan menentang kebenaran dan sering menolaknya.
«فَإِذَا كَانَ الْعَالِمُ وَالْحَاكِمُ مُحِبَّيْنِ لِلرِّيَاسَةِ مُتَّبِعَيْنِ لِلشَّهَوَاتِ، لَمْ يَتِمَّ لَهُمَا ذَلِكَ إِلَّا بِدَفْعِ مَا يُضَادُّهُ مِنَ الْحَقِّ».
Apabila seorang alim dan penguasa mencintai jabatan serta mengikuti hawa nafsu, maka keinginan mereka tidak akan terwujud kecuali dengan menolak kebenaran yang bertentangan dengannya.
«وَلَا سِيَّمَا إِذَا قَامَتْ لَهُ شُبْهَةٌ، فَتَتَّفِقُ الشُّبْهَةُ وَالشُّهْرَةُ، وَيَثُورُ الْهَوَى، فَيَخْفَى الصَّوَابُ وَيَنْطَمِسُ وَجْهُ الْحَقِّ».
Terlebih lagi bila muncul suatu syubhat, lalu bertemulah antara syubhat dan popularitas, dan hawa nafsu pun bergelora; maka kebenaran menjadi samar dan wajah kebenaran pun tertutupi.
«وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ ظَاهِرًا لَا إِخْفَاءَ بِهِ وَلَا شُبْهَةَ فِيهِ، أَقْدَمَ عَلَى مُخَالَفَتِهِ، وَقَالَ: لِي مَخْرَجٌ بِالتَّوْبَةِ».
Bahkan jika kebenaran itu jelas, tidak samar dan tanpa syubhat, ia tetap berani menyelisihinya sambil berkata,
“Aku masih punya jalan keluar dengan bertaubat nanti.”
وَفِي أَشْبَاهِ هَؤُلَاءِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴾
[مريم: ٥٩]
Dan tentang orang-orang semisal mereka, Allah Ta‘ala berfirman:
“Maka datanglah setelah mereka generasi penerus yang menyia-nyiakan salat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
(QS. Maryam:59)
وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا:
﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا﴾
إلى قوله:
﴿وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾
[الأعراف: ١٦٩]
Dan Allah juga berfirman tentang mereka:
“Maka datanglah setelah mereka generasi yang mewarisi kitab, mereka mengambil kenikmatan dunia yang rendah ini dan berkata: ‘Kami akan diampuni.’ … Padahal negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
Tidakkah kalian berpikir?”
«فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّهُمْ أَخَذُوا الْعَرَضَ الْأَدْنَى مَعَ عِلْمِهِمْ بِتَحْرِيمِهِ عَلَيْهِمْ، وَقَالُوا: سَيُغْفَرُ لَنَا، وَإِنْ عَرَضَ لَهُمْ عَرَضٌ آخَرُ أَخَذُوهُ».
Allah mengabarkan bahwa mereka mengambil kenikmatan dunia yang rendah, padahal mereka tahu hal itu diharamkan atas mereka.
Mereka berkata, “Kami akan diampuni,”
dan bila datang tawaran dunia lainnya, mereka pun mengambilnya lagi.
«فَهُمْ مُصِرُّونَ عَلَى ذَلِكَ، وَذَلِكَ هُوَ الْحَامِلُ لَهُمْ عَلَى أَنْ يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ».
Mereka terus-menerus melakukan hal itu, dan itulah yang mendorong mereka berkata atas nama Allah tanpa hak ( tidak benar).
«فَيَقُولُونَ: هَذَا حُكْمُهُ وَشَرْعُهُ وَدِينُهُ، وَهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ دِينَهُ وَشَرْعَهُ وَحُكْمَهُ خِلَافُ ذَلِكَ».
Mereka berkata,
“Ini adalah hukum, syariat, dan agama Allah,”
padahal mereka mengetahui bahwa hukum, syariat, dan agama Allah justru bertentangan dengan apa yang mereka katakan.
«فَتَارَةً يَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَتَارَةً يَقُولُونَ عَلَيْهِ مَا يَعْلَمُونَ بُطْلَانَهُ».
Terkadang mereka berkata atas nama Allah tanpa ilmu, dan terkadang mereka berkata atas nama-Nya dengan sesuatu yang mereka tahu kebatilannya.
«وَأَمَّا الَّذِينَ يَتَّقُونَ فَيَعْلَمُونَ أَنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا، فَلَا يَحْمِلُهُمْ حُبُّ الرِّيَاسَةِ وَالشَّهْوَةِ عَلَى إِيثَارِ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ».
Adapun orang-orang yang bertakwa, mereka mengetahui bahwa akhirat lebih baik daripada dunia.
*_Karena itu, kecintaan kepada jabatan dan hawa nafsu tidak mendorong mereka (orang orang yang bertakwa) untuk mengutamakan dunia atas akhirat._*
«وَطَرِيقُ ذَلِكَ أَنْ يَتَمَسَّكُوا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَيَسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ».
*Jalan keluar untuk mengobati penyakit tersebut adalah*
*dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta meminta pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan salat.*
«وَيَتَفَكَّرُوا فِي الدُّنْيَا وَزَوَالِهَا وَخِسَّتِهَا، وَفِي الْآخِرَةِ وَإِقْبَالِهَا وَدَوَامِهَا»
*Dan dengan merenungi dunia, kefanaannya, dan kehinaannya; serta merenungi akhirat, kedatangannya, dan keabadiannya.*
«فَاتِّبَاعُ الْهَوَى يُعْمِي عَيْنَ الْقَلْبِ، فَلَا يُمَيِّزُ بَيْنَ السُّنَّةِ وَالْبِدْعَةِ، أَوْ يَنْكِسُهُ فَيَرَى الْبِدْعَةَ سُنَّةً وَالسُّنَّةَ بِدْعَةً».
Mengikuti hawa nafsu akan membutakan mata hati, sehingga tidak mampu membedakan antara sunnah dan bid‘ah, atau bahkan bisa membalikkan penilaian: bid‘ah dianggap sunnah dan sunnah dianggap bid‘ah.
«فَهَذِهِ آفَةُ الْعُلَمَاءِ إِذَا آثَرُوا الدُّنْيَا وَاتَّبَعُوا الرِّيَاسَاتِ وَالشَّهَوَاتِ».
*Inilah penyakit para ulama apabila mereka mengutamakan dunia serta mengikuti jabatan dan hawa nafsu.*
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ﴾
إلى قوله:
﴿وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ﴾
[الأعراف: ١٧٥–١٧٦]
Allah berfirman :
Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu ia melepaskan diri darinya, maka setan pun mengikutinya.”. .
Sampai pada firman Allâh :
“Maka ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi ia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya.”
*(Al Qur'an Surah Al A'raf: 175-176)*
“Inilah perumpamaan seorang alim yang buruk, yang mengetahui kebenaran namun beramal menyelisihinya.”
وقال ابنُ تيميةَ:
«وَتَعَمُّدُ الْكَذِبِ لَهُ أَسْبَابٌ… وَذَكَرَ مِنْهَا: حُبَّ الرِّيَاسَةِ».
Dan Ibnu Taimiyah berkata:
“Kesengajaan berdusta memiliki beberapa sebab,” dan beliau menyebutkan di antaranya: cinta kepada jabatan dan kekuasaan.
(Lihat Kitab Hubbur Riasah halaman 21-23)
